Tekanan Mental dan Analisis Data Turunkan Rasio Gol Penalti
Kegagalan penalti mendalam dirasakan oleh Davinson Sanchez, Quinten Timber, hingga Jonathan Tah. Para pemain dari Kolombia, Belanda, dan Jerman tersebut menjadi bagian dari catatan kelam. Eksekusi mereka yang mentah dalam drama adu penalti berujung pada tersingkirnya negara mereka dari turnamen akbar ini.
Berdasarkan data statistik Opta, sebanyak 20 dari 59 total tendangan penalti, termasuk dalam babak adu penalti, gagal berbuah gol. Angka ini menghasilkan tingkat keberhasilan hanya sebesar 66,1 persen. Padahal, nilai harapan gol atau 'expected goals' standar untuk sebuah penalti biasanya mencapai angka 0,79.
Read Also
Rasio kesuksesan eksekusi dari titik putih ini terus merosot tajam sejak gelaran Piala Dunia 2014 yang sempat menyentuh angka 77,6 persen. Catatan tahun ini merupakan yang paling buruk sejak tahun 1966. Pada masa lalu, aturan untuk penjaga gawang jauh lebih longgar daripada era modern saat ini.
Menurut para analisis ahli, penurunan ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi video dan statistik canggih. Staf kepelatihan dan penjaga gawang kini mampu mempelajari kebiasaan arah tembakan setiap eksekutor secara mendalam. Hal tersebut berhasil menyeimbangkan peta kekuatan serta meningkatkan tekanan psikologis bagi para penendang.