Kegagalan Taktik Stop-Start di Bawah Mistar Gawang Piala Dunia
Kylian Mbappe gagal menundukkan Yassine Bounou dari titik putih. Striker Prancis itu menghentikan langkah di tengah ancang-ancang. Dia menatap mata kiper Maroko dan mengabaikan bola. Siasat itu berujung mentah. Lima hari sebelumnya, trik serupa berhasil saat melawan Paraguay. Kini, publik bertanya tentang efektivitas gaya ini.
Bukan hanya Kylian Mbappe yang tersandung. Bruno Guimaraes, Lionel Messi, dan Kai Havertz mengalami nasib sama. Berdasarkan data turnamen, 19 dari 60 penalti menggunakan teknik jeda ini. Angka keberhasilannya buruk, hanya 53 persen. Padahal, konversi penalti konvensional mencapai 70 persen, sementara standar expected goals berada di kisaran 79 persen.
Read Also
Menurut Christophe Lollichon, mantan pelatih kiper Chelsea, aspek video mengubah segalanya. Penjaga gawang kini mempelajari detail sejak penendang menaruh bola. "Penjaga gawang bisa memberikan informasi palsu untuk mengecoh penendang," ujarnya. Taktik manipulasi tempo ini menuntut ketepatan momentum yang ekstrem dari kedua belah pihak agar berhasil.
Berdasarkan analisis Ben Lyttleton, penulis buku Twelve Yards, teknik ini bukan barang baru. Trik yang dikenal sebagai paradinha ini sudah digunakan Pele sejak awal 1960-an. FIFA bahkan membatasi gerakan ini lewat Aturan 14. Momentum tanpa kecepatan penuh membuat akurasi tembakan menurun drastis jika kiper tidak terkecoh.