Metamorfosis El Professor dari Pelatih Akademi Menuju Pentas Dunia
Keberhasilan Maroko melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2026 membuktikan kapasitas Mohamed Ouahbi. Setelah menggantikan Walid Regragui pasca-CAND 2026, pria berusia 49 tahun ini mampu meredam keraguan publik. Menurut Mohammed Adil Erradi, kemenangan atas Kanada merupakan momen paling penting dalam karier Ouahbi. Keputusan taktis sang pelatih terbukti jitu di tengah tekanan besar turnamen.
Maroko tampil impresif meski kehilangan pilar penting seperti Nayef Aguerd dan Abde Ezzalzouli akibat cedera. Ouahbi tidak mengeluh dan justru melakukan penyesuaian posisi pemain dengan sangat matang. Statistik mencatat kemampuannya mengubah jalannya laga lewat instruksi cerdas pada jeda babak pertama. Rekam jejaknya sebagai juara Piala Dunia U-20 tahun 2025 menjadi fondasi kuat taktiknya.
Read Also
Sebelum menangani tim senior, Ouahbi menghabiskan tujuh belas tahun melatih tim muda Anderlecht di Belgia. Berdasarkan kesaksian rekan-rekannya, dia adalah sosok yang melahirkan bintang seperti Vincent Kompany dan Youri Tielemans. Mantan rekan sejawatnya, Yannick Ferrera, menyebut Ouahbi sebagai pelatih yang selalu mengutamakan detail, antisipasi, dan intensitas permainan yang tinggi.
Gaya kepemimpinan Ouahbi sering dijuluki 'tangan besi dalam sarung tangan beludru' karena ketegasannya. Dia berani mengambil keputusan radikal dengan mencoret nama besar seperti Youssef En-Nesyri demi keharmonisan tim. Kini, El Professor menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya saat mempersiapkan pengaturan taktik khusus untuk meredam kekuatan Prancis di babak perempat final.